|
|
|||
|
|
|
||
|
|
:: Sedjarah "Bokarian" |
|
|
|
|
Berawal dari legenda rakjat jang melekat pada kehidoepan masjarakat Tjebongan Kidoel (Cebongan Kidul), tentang seorang tokoh jang dijakini hidoep damai berdampingan dengan masjarakat dusun Tjebongan Kidoel sampai saat ini. Boleh dikata. kehidoepan masjarakat senantiasa aman, tenteram, roekoen dan saling bergotong-rojong bahoe-membahoe penoeh dengan kemakmoeran, karena letak geografis doesoen yang strategis dan ideal oentoek kehidoepan masjarakat jang sebahagihan besar mempunjai mata pentjaharian bertjotjok tanam dan bertani.
Dahoeloe kala, di sebelah Timoer doesoen terdapat soember mata air jang beroepa rawa, masjarakat menjeboetnja "Toek Paroeng", bentoeknja memandjang ke Selatan sepandjang 500 meter jang tidak pernah kering meskipoen mengalami kemaraoe pandjang. Rawa ini di toetoep karena ketakoetan masjarakat akan terjadi malapetaka (rawa menjadi laoet) akibat moentjoelnya ikan laoet (Djawa=Gereh Pethek). Penoetoepan mata air dilakoekan dengan menggunakan Gong, Ijuk dan Loempang. Setelah berhasil ditoetoep, moentjoel mata air baroe di doesoen Nyamploengan (berlokasi di sebelah Timoer doesoen Tjebongan), yang masih tetap ada sampai sekarang. Oleh masjarakat setempat diseboet "Toek Oemboel"
Bagian pinggir Toek Oemboel, terdapat goea di bawah tebing jang kaja dengan berbagai ikan tawar. Bila masjarakat mengail ikan-ikan terseboet tanpa 'amit-amit' (minta idjin), ketika dibawa ke roemah ikan hasil tangkapan akan beroebah menjadi oelar. Ikan dapat dinikmati jika ketika mengail minta idjin terlebih dahoeloe kepada pengoeasa rawa. Konon ceritanja, ada seorang penggembala kerbaoe jang membawa kerbaoenja 'njeroem' (mandi) tepat di depan goea, namoen tiba-tiba kerboe tersebut hilang tenggelam sampai sekarang tidak diketemoekan. Oentoek mengenang peristiwa terseboet masjarakat menjeboetnja "BOKARI" (dari kata keBO=kerbaoe dan KERI=tertinggal).
Akhir tjerita Bokari sebagai keradjaan oelar karena disekitar rawa terdapat banjak goea yang dihoeni oleh berbagai jenis oelar. Diantara oelar terseboet terdapat seekor oelar besar tanpa ekor (boentoeng) yang mempoenjai mahkota (jengger), jang dijakini sebagai pengoeasa rawa terseboet, terseboetlah dengan nama "Mbah Bokari".
Sedjak kedoea kedjadian terseboet, antara masjarakat doesoen Tjebongan dan Mbah Bokari mempunjai perdjandjian jang haroes diingat dan diperhatikan, jaitu kedoeanja akan hidoep bedampingan, saling mendjaga dan menghormati jika masjarakat doesoen Tjebongan tidak menanam kedelai hitam dan ketan hitam di doesoen tersebut. Jika perjanjian terseboet dilanggar maka masjarakat akan mendapat malapetaka.
Sedjak tahoen 2008, sebagai oecapan sjoekoer oepatjara Merti Doesoen dan Kirab Boedaya masjarakat Tjebongan Kidoel menggunakan kata "BOKARI" untuk mengenang Mbah Bokari dan mengingat perdjanjian yang diboeat kedoea belah pihak. Ataoe diseboet sebagai "BOKARIAN". |
||
|
|
|||
Copyright © 2008-2009 www.Bokarian.co.cc. All Rights Reserved Worldwide.